Categories
Parenting

Kebutuhan Afeksi Anak Bagian 2

BERIKAN BATASAN Secara umum, Rina menyatakan, perilaku cium bibir harus disikapi de ngan bijaksana. Anak perlu mengetahui, perilaku tersebut merupakan eks presi kasih sayang orangtua kepada anak, dan sebaliknya. Perilaku cium bibir hanya boleh dilakukan oleh Mama Papa (orangtua) dan tidak boleh dilakukan oleh orang lain tanpa seizin orangtua. Minta anak untuk memberitahu orangtua jika mendapat cium di bibir dari orang lain tanpa sepengetahuan orangtua Selain itu, juga perlu diperhatikan masalah kesehatan, karena mencium di bibir dapat menjadi salah satu media perpindahan bakteri, kuman, atau virus yang menyebabkan penyakit. Ketika salah satu pihak—baik orangtua maupun anak—sedang sa kit, jangan melakukan cium bibir agar tak tertular penyakit. Beri tahu anak, perilaku cium bibir mungkin saja tak bisa dilakukan kalau orangtua dalam kondisi tidak sehat, sehingga anak tak perlu kecewa. “Oleh karena itu orangtua harus menjamin kondisi fisik yang sehat ketika melakukan cium bibir kepada anak,” tegas Rina. Intinya, ketika merasa cium di bibir tidak masalah, maka orangtua harus menentukan siapa saja yang boleh melakukan hal tersebut— batasilah pada kelurga inti—serta perha tikan kondisi kesehatan anak dan orangtua sendiri agar terhindar dari transfer penyakit.

PEMENUHAN KEBUTUHAN AFEKSI Sebetulnya, mencium bibir hanya salah satu dari cerminan kebutuhan afeksi anak. Yang lebih penting adalah bagaimana Mama Papa peka pada kebutuhan afeksi ini. Pemenuhan kebutuhan afeksi pada anak dapat dilakukan dengan memfasilitasi emosi-emosi yang dimiliki oleh secara tepat, sehingga anak memahami, orangtua melakukan peran sebagai pelindung dan pengasihan. Perkembangan emosi anak ditentukan dari interaksi anak dengan lingkungan terdekatnya, dalam hal ini keluarga. Dengan demikian, ekspresi emosi pun ditentukan dari bagaimana orangtua mengekspresikan emosinya maupun dirinya di depan anak.

Categories
Parenting

Kebutuhan Afeksi Anak

Kebutuhan afeksi setiap anak berbeda. Oleh sebab itu, sikapi dengan bijak keinginannya untuk bermanja, termasuk bila ingin mencium bibir. Namun, berikan dengan jelas batasannya. Anna terheran-heran melihat keponakannya yang baru datang dari sekolah memeluk dan mencium ibunya… di bibir! “Eh, kok begitu sih?” tanyanya dalam hati. Anna merasa jengah dengan perilaku tersebut. Menurut Anna, cium bibir hanya dilakukan oleh orang dewasa, khususnya mereka yang menjalin hubungan kasih. Tetapi untuk anak kecil? Rasanya, kok, tak pantas, ya! Orangtua yang memiliki nilai bahwa cium bibir hanya untuk individu usia dewasa dan karenanya terkait dengan perilaku seksual biasanya memang tak pernah menunjukkan perilaku cium bibir dengan pasangan di depan anak. Dengan alasan sama, mereka pun tak mengajarkan, membiasakan, atau melakukan perilaku cium bibir dengan anak sejak dini.

WAJAR ATAU TIDAK? Sebenarnya, perilaku cium adalah suatu ekspresi kasih sayang yang dilakukan terhadap orang lain. Kita pun tahu, ekspresi kasih sayang memang tak terbatas pada ekspresi verbal saja, namun juga ekspresi non-verbal, seperti mencium. Menilai apakah perilaku cium bibir antara anak dengan orangtua merupakan perilaku yang wajar atau tidak, tentu tak terlepas dari nilai-nilai yang dianut oleh setiap orang. “Wajar atau tidak suatu hal, itu bergantung pada cara pandang seseorang atau nilai yang dimiliki seseorang tersebut,” ujar Rina Rahmatika, dosen dan psikolog dari Universitas YARSI, Jakarta. Begitu pula jika anak yang meminta orangtua atau mencium orangtuanya di area sekitar bibir. Hal tersebut tergolong wajar apabila memang orangtua memiliki nilai dimana ekspresi sayang dapat dilakukan dengan perilaku cium bibir. Misalnya, Mama Papa tidak segan menunjukkan perilaku cium bibir di depan anak, atau justru memang melakukan perilaku cium bibir dengan anak sejak dini. Ketika anak meminta, hal itu menjadi wajar karena memang dilakukan dalam keseharian.

BELAJAR DARI LINGKUNGAN Hingga usia balita, anak masih belajar banyak hal dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Bagi keluarga yang melakukan perilaku cium bibir pada anak, hal ini jelas dipengaruhi oleh kebiasaan yang dilakukan antar anggota keluarga. Sebaliknya, untuk keluarga yang tidak biasa melakukan perilaku cium bibir kepada anak balita atau batitanya, maka awalnya pasti akan merasa kebingungan dari mana anak belajar meminta hal tersebut. Pertama, coba cek apakah orangtua melakukan perilaku mencium bibir dengan pasangan di depan anak? Apa kah orangtua yakin anak tidak melihat ketika orangtua melakukan hal tersebut? Kedua, coba cek bagaimana isi tontonan yang dinikmati anak? Hal ini merupakan contoh yang juga dapat ditiru oleh anak. Satu hal yang penting dipahami orangtua, anak belum merasakan kenikmatan cium di bibir dalam kaitannya dengan kenikmatan seksual, karena balita memang belum memiliki dorongan biologis ke arah hasrat seksual. “Namun, apabila kenikmatan tersebut terkait dengan ekspresi afeksi, ya anak bisa saja dapat merasakan hal tersebut sehingga menganggap perilaku cium di bibir sebagai simbol kasih sayang,” terangnya.

Agar anak memiliki keterampilan berbahasa asing, berikan ia pelatihan di tempat terbaik bimbel bahasa Perancis di Jakarta.